02 okt 26 (kanus) - news 3

Kepala Disdikbud Kukar, Heriansyah. (Kata Nusantara)

KATANUSANTARA.COM – Beseprah masuk dalam Warisan Budaya Tak Benda (WBTB), sebuah pengakuan yang dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan tradisi masyarakat Kutai sekaligus memperkenalkannya kepada generasi muda.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar), Heriansyah, menyambut baik masuknya Beseprah sebagai warisan budaya tak benda.

Menurutnya, pencatatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memastikan tradisi yang memiliki nilai historis itu tetap terjaga.

“Ya, kita juga sangat bersyukur ya bahwa Beseprah itu masuk warisan budaya tak benda,” ujar Heriansyah, Jumat (2/10/2026).

Ia menjelaskan, pengakuan tersebut tidak hanya dipandang sebagai pencapaian di tingkat nasional.

Pemerintah daerah juga berupaya agar Beseprah dapat semakin dikenal dan mendapat pengakuan yang lebih luas, termasuk di tingkat internasional.

Menurut Heriansyah, langkah pendaftaran menjadi penting untuk menjaga keberadaan Beseprah sebagai bagian dari identitas budaya Kutai.

Tanpa adanya upaya pencatatan dan pengakuan, terdapat kekhawatiran nilai historis dari tradisi tersebut tidak terdokumentasikan dengan baik.

“Yang tahun ini itu bagian dari upaya kita supaya itu juga diakui tidak hanya nasional, bahkan juga internasional,” katanya.

Heriansyah menilai Beseprah memiliki nilai historis dan sosial yang kuat. Tradisi tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan makan bersama, tetapi juga mengandung pesan mengenai kesetaraan antara pemimpin dan masyarakat.

Dalam Beseprah, masyarakat dan Sultan duduk bersama dalam satu suasana. Hal tersebut mencerminkan hubungan yang dekat serta ruang komunikasi antara pemimpin dengan masyarakat yang dipimpinnya.

“Beseprah itu punya nilai historis yang cukup bagus untuk generasi muda kita,” jelasnya.

Ia menyebut salah satu nilai utama yang terkandung dalam Beseprah adalah prinsip “berdiri sama tinggi, duduk sama rendah”.

Nilai tersebut menggambarkan tidak adanya jarak dalam komunikasi ketika Sultan berinteraksi dengan masyarakat.

“Bahwa Beseprah itu mengajarkan berdiri sama tinggi, duduk sama rendah, di mana Sultan untuk berkomunikasi dengan masyarakatnya,” tuturnya.

Menurut Heriansyah, nilai yang terkandung dalam Beseprah juga memiliki relevansi dengan tata kelola pemerintahan saat ini.

Salah satunya tercermin dalam mekanisme pemerintah daerah yang berupaya mendengarkan aspirasi masyarakat dari tingkat bawah.

Ia mencontohkan pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang menjadi ruang untuk menyerap berbagai aspirasi masyarakat dalam proses perencanaan pembangunan.

“Dan ini juga sudah diakomodir di kegiatan-kegiatan di pemerintah seperti Musrenbang, itu mendengarkan aspirasi dari bawah,” ungkapnya.

Karena itu, Heriansyah melihat pelestarian Beseprah bukan hanya tentang mempertahankan sebuah tradisi, tetapi juga menjaga nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar tetap relevan dan dapat dipahami oleh generasi berikutnya.

Ia berharap pengakuan sebagai warisan budaya tak benda dapat semakin memperkuat upaya pelestarian adat, istiadat, dan budaya Kutai.

“Dan ini bagian dari kita untuk melestarikan adat, istiadat, dan budaya kita,” pungkas Heriansyah.

Bagikan Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *