Danau Saguntur Sediakan Pakan Pesut Mahakam di Sangkuliman

0
FB_IMG_1789280018137

KATANUSANTARA.COM — Danau Saguntur di Desa Sangkuliman, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menjadi salah satu kawasan yang menyediakan sumber pakan bagi pesut Mahakam. Keberadaan ikan-ikan kecil di danau tersebut menjadi bagian dari ekosistem yang membuat satwa tersebut sesekali masuk ke kawasan perairan sekitar Sangkuliman.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bertata Menata Tertata (BMT) Desa Sangkuliman, Rojali, mengatakan keberadaan sumber pakan tersebut berkaitan dengan kondisi Danau Saguntur yang berbeda dari sejumlah perairan di sekitarnya.

“Danau Saguntur itu tidak pernah kering. Sampai sekarang airnya masih dalam, sehingga ikan-ikan kecil sebagai pakan tetap tersedia,” kata Rojali, Rabu (9/9/2026).

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi salah satu karakter penting Danau Saguntur. Ketika beberapa danau atau luah mengalami penyurutan pada musim kemarau, Danau Saguntur disebut tetap memiliki kedalaman air.

Kondisi itu membuat ikan-ikan kecil tetap tersedia di dalam perairan. Keberadaan ikan tersebut kemudian menjadi bagian dari rantai makanan yang mendukung kehidupan satwa air di kawasan sekitar.

Rojali menjelaskan, Danau Saguntur juga memiliki hubungan dengan jalur perairan menuju kawasan Danau Semayang. Jalur tersebut menjadi salah satu akses pergerakan satwa air ketika mencari sumber makanan.

“Pesut itu bisa masuk melalui anak sungai menuju Danau Semayang karena di Danau Saguntur pakannya tersedia. Jadi ikan-ikan kecil di sini menjadi salah satu sumber makanannya,” ujarnya.

Menurut Rojali, keberadaan pesut di kawasan tersebut tidak dapat dipastikan setiap waktu. Kemunculannya bergantung pada kondisi dan keberadaan makanan di jalur perairan.

Meski demikian, keberadaan sumber pakan di Danau Saguntur menjadi salah satu alasan kawasan tersebut memiliki nilai ekologis yang penting bagi Sangkuliman.

Karena itu, Pokdarwis BMT bersama masyarakat berupaya menjaga kondisi Danau Saguntur. Salah satu upayanya dengan tidak membenarkan penggunaan setrum untuk menangkap ikan.

Rojali mengatakan perlindungan terhadap perairan dilakukan agar aktivitas masyarakat tidak merusak kondisi danau. Menurutnya, keberadaan ikan sebagai bagian dari ekosistem perlu tetap dipertahankan.

“Kami menjaga Danau Saguntur ini. Tidak boleh menggunakan setrum, karena kalau pakai cara seperti itu bukan hanya ikan yang terganggu, tetapi kondisi danau juga bisa rusak,” tegasnya.

Selain larangan penggunaan setrum, masyarakat tetap melakukan aktivitas menangkap ikan secara tradisional. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus menunjukkan bahwa potensi perairan tetap dapat dimanfaatkan tanpa merusak kawasan.

Rojali menyebut kondisi Danau Saguntur yang tidak pernah kering menjadi keunikan tersendiri bagi Desa Sangkuliman. Letaknya juga tidak jauh dari permukiman sehingga kawasan tersebut mudah dikenali dan dijaga masyarakat setempat.

“Dari kampung ke Danau Saguntur hanya sekitar dua menit. Jadi danau ini dekat dengan masyarakat dan memang sejak dulu kami jaga,” ungkap Rojali.

Ia berharap kondisi Danau Saguntur dapat terus dipertahankan sehingga ekosistem perairannya tetap mendukung keberadaan berbagai jenis satwa. Bagi Pokdarwis BMT, menjaga danau menjadi bagian dari upaya mempertahankan potensi alam Sangkuliman.

“Kalau danau ini tetap terjaga, ikan tetap ada, dan pakannya tersedia. Itu yang penting bagi kami, karena Danau Saguntur memang menjadi bagian dari alam Sangkuliman,” pungkas Rojali. (*)

Bagikan Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *