Distanak Kukar akan Kembangkan Ternak Ayam Petelur

Kepala Distanak Kukar Muhammad Rifani. (Kata Nusantara)
KATANUSANTARA.COM – Dinas Pertanian dan Peternakan (Distanak) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) berencana mengembangkan usaha peternakan ayam petelur di sejumlah kecamatan.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan produksi telur lokal sekaligus menangkap peluang pasar yang selama ini masih banyak dipasok dari luar daerah.
Kepala Distanak Kukar, Muhammad Rifani, mengatakan pengembangan ayam petelur tetap menjadi salah satu program yang akan dilaksanakan pihaknya dalam memperkuat sektor peternakan daerah.
“Di beberapa kecamatan, misalnya seperti Kota Bangun, Muara Muntai, Kota Bangun Darat, Loa Janan, dan Loa Kulu,” ucap Rifani, Kamis (22/10/2026).
Meski telah mengidentifikasi sejumlah lokasi, Distanak Kukar masih melakukan penghitungan terkait jumlah ayam petelur yang akan dikembangkan.
Perhitungan tersebut diperlukan untuk menentukan kebutuhan ternak sekaligus menyesuaikan pola pengadaan yang akan diterapkan.
Rifani menjelaskan, pengembangan kali ini direncanakan menggunakan ayam fase pullet, bukan anak ayam umur sehari atau Day Old Chick (DOC).
Pullet merupakan ayam betina muda yang telah melewati fase awal pertumbuhan dan dipersiapkan untuk memasuki masa produksi telur.
Pemilihan jenis tersebut menjadi salah satu pertimbangan agar peternak tidak perlu memulai seluruh proses pemeliharaan dari fase DOC.
“Nah, ini kami masih berhitung, karena nanti kita akan pilihkan ayam bukan bibit, bukan DOC, ya. Tapi dia pullet. Nah, ini ada pergeseran-pergeseran seperti itu. Nanti beberapa bulan ke depan dia sudah bertelur,” jelasnya.
Menurut Rifani, penggunaan ayam pullet diharapkan dapat memperpendek waktu tunggu menuju masa produksi dibandingkan apabila pengembangan dimulai dari DOC.
Kendati demikian, ayam yang disiapkan tidak serta-merta langsung menghasilkan telur setelah diterima peternak.
Masih diperlukan waktu pemeliharaan hingga ayam memasuki usia produktif.
“Enggak juga langsung jadi. Beberapa bulan dia sudah bisa bertelur. Kalau dari DOC kan perlu tiga sampai empat bulan,” terangnya.
Rifani mengungkapkan bahwa pertimbangan utama pengembangan peternakan ayam petelur tidak terlepas dari peluang pasar telur di Kukar.
Menurutnya, kebutuhan telur masyarakat selama ini masih banyak dipenuhi melalui pasokan dari luar daerah.
Kondisi tersebut menjadi peluang bagi peternak lokal untuk meningkatkan produksi dan mengambil bagian dalam memenuhi kebutuhan pasar.
Distanak Kukar melihat produksi telur lokal memiliki keunggulan tersendiri, terutama dari sisi kesegaran produk.
Telur yang dihasilkan langsung dari peternakan di Kukar berpotensi memiliki waktu distribusi lebih singkat dibandingkan telur yang harus didatangkan dari luar daerah.
Keunggulan tersebut dapat menjadi daya saing bagi peternak lokal dalam memasarkan hasil produksinya.
Selain memperkuat ketersediaan telur di daerah, pengembangan peternakan juga membuka peluang peningkatan aktivitas ekonomi masyarakat melalui sektor peternakan.
Karena itu, Rifani menilai pengembangan ayam petelur perlu mempertimbangkan kebutuhan pasar agar produksi yang dihasilkan nantinya memiliki peluang penyerapan yang baik.
“Iya, pasarnya yang kita lihat. Kan telur itu banyak dari luar, tapi kelebihan kita, telurnya nanti lebih segar karena diproduksi lokal. Nah, kemenangan kita itu,” pungkasnya.






