Air Sungai Surut, Ruang Perairan Mahakam Ikut Berubah

0
IMG_20190719_114030

KATANUSANTARA.COM – Sungai Mahakam bukan sekadar satu jalur perairan yang digunakan dari hulu hingga hilir. Bagi pesut Mahakam, bentang sungai sepanjang sekitar 920 kilometer itu memiliki fungsi yang berbeda-beda, bergantung pada kedalaman perairan, kondisi habitat dan keberadaan makanan.

Pola tersebut membuat pesut dapat berpindah dari satu kawasan ke kawasan lainnya. Pergerakannya tidak berhenti di badan utama Mahakam, tetapi juga menjangkau anak sungai, rawa dan danau yang masih terhubung dengan sistem perairan tersebut.

Peneliti Yayasan Konservasi Rare Aquatic Species of Indonesia (RASI), Danielle Kreb, menyebut wilayah jelajah pesut dapat mencapai sekitar 40 kilometer dari habitat awal.

Sejumlah kawasan yang menjadi bagian dari habitat pesut antara lain Sungai Belayan, Sungai Kedang Rantau, Kedang Kepala, Sungai Pela, Danau Semayang-Melintang dan Kedang Pahu.

Perpindahan itu terutama berkaitan dengan makanan. Ikan kecil dan udang menjadi bagian dari sumber pakan pesut sehingga perubahan keberadaan ikan turut memengaruhi pergerakannya.

Karena itu, kondisi ekosistem perairan menjadi bagian penting dalam mempertahankan habitat satwa tersebut. Penangkapan ikan berlebihan, penggunaan setrum dan racun, serta alat tangkap yang mengambil ikan dalam jumlah besar dinilai dapat mengurangi sumber makanan di sungai.

“Ikan di Sungai Mahakam merupakan sumber makanan bagi berbagai biota, termasuk pesut. Karena itu, mari jaga agar ikan tetap ada untuk keberlangsungan ekosistem kita,” ujar Danielle.

Persoalan habitat kemudian menjadi lebih kompleks ketika kondisi perairan berubah mengikuti musim. Saat kemarau, muka air turun dan sebagian wilayah yang sebelumnya tergenang mulai terbuka. Perairan yang tersisa menjadi lebih terbatas, termasuk bagi satwa yang membutuhkan bagian sungai dengan kedalaman tertentu.

Situasi itu pernah menyebabkan pesut masuk ke wilayah yang berisiko. Pada 2017, pesut betina Fiona yang sedang hamil bersama pesut jantan muda Zack terjebak di kawasan rawa sekitar Desa Pela dan Sangkuliman.

Kasus serupa terjadi pada 2020 ketika seekor pesut harus dievakuasi setelah terdampar di Danau Semayang-Melintang yang sedang mengalami penyusutan.

Menurut Danielle, perubahan kondisi air juga memengaruhi arah pergerakan pesut. Ketika air laut masuk ke bagian hilir Mahakam, pesut sebagai satwa air tawar justru cenderung bergerak menuju hulu.

“Justru dengan air laut masuk, pesut akan semakin ke hulu. Jadi dia tetap tidak akan ketemu sama air laut,” jelasnya.

Perubahan musim tidak hanya mengubah kondisi habitat, tetapi juga membuat bagian sungai tertentu menjadi lebih penting untuk pergerakan. Alur yang masih dalam menjadi salah satu ruang yang dapat digunakan pesut ketika bagian lain mengalami pendangkalan.

Pada saat bersamaan, alur tersebut juga menjadi bagian dari ruang aktivitas pelayaran. Kapal tetap membutuhkan kedalaman tertentu agar dapat bergerak di Sungai Mahakam.

Danielle mengatakan kondisi tersebut perlu menjadi perhatian karena keberadaan pesut tidak selalu dapat diketahui dari permukaan air.

“Kami juga mengimbau jangan sampai ada yang masih mondar-mandir, terutama kapal besar, karena itu pasti bersinggungan dengan jalur dalam. Itu menambah bahaya atau risiko tertabrak dengan pesut,” katanya.

Ancaman terhadap ruang perairan juga berkaitan dengan aktivitas tongkang. Dalam laporan YK RASI, badan tongkang pada musim kemarau dapat menyita sekitar dua pertiga lebar sungai dan lebih dari setengah kedalaman anak sungai yang mengalami penyusutan.

Kawasan antara Muara Muntai hingga Batuq Muara Kaman menjadi salah satu perhatian karena merupakan kawasan konservasi habitat pesut.

Selain memengaruhi ruang gerak di sungai, keberadaan tongkang di sisi perairan juga dapat mengurangi ruang aktivitas nelayan. Danielle menyoroti kondisi ketika tongkang berada di kedua sisi sungai dan tersusun berjajar.

“Seharusnya tidak ada tongkang parkir di kanan-kiri sungai, apalagi berjajar bertigaan. Itu sangat mengganggu nelayan untuk memasang alat dan mencari ikan di pinggir sungai,” ungkapnya.

Aktivitas pelayaran juga menghasilkan kebisingan di dalam air. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena pesut menggunakan sistem sonar alami untuk mengenali lingkungan di sekitarnya.

Dengan populasi yang diperkirakan hanya sekitar 60 ekor, perubahan kondisi habitat menjadi faktor penting bagi keberlangsungan pesut Mahakam. Satwa dengan nama ilmiah Orcaella brevirostris tersebut berstatus Endangered atau terancam punah berdasarkan kategori IUCN yang dirujuk dalam data konservasi RASI.

Karena itu, pemantauan kondisi satwa di lapangan menjadi bagian penting dalam upaya penyelamatan. Masyarakat yang menemukan pesut di perairan dangkal, terisolasi atau dalam kondisi tidak biasa diminta segera melaporkannya. (*)

Bagikan Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *