Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the wordpress-seo domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/katanusa/domains/katanusantara.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131

Notice: Function _load_textdomain_just_in_time was called incorrectly. Translation loading for the covernews domain was triggered too early. This is usually an indicator for some code in the plugin or theme running too early. Translations should be loaded at the init action or later. Please see Debugging in WordPress for more information. (This message was added in version 6.7.0.) in /home/katanusa/domains/katanusantara.com/public_html/wp-includes/functions.php on line 6131
Kutim Perkuat Gerakan Pendidikan Inklusif, Disdikbud Resmi Luncurkan RAD SITISEK 2025 - katanusantara.com

Kutim Perkuat Gerakan Pendidikan Inklusif, Disdikbud Resmi Luncurkan RAD SITISEK 2025

0

KATANUSANTARA.COM, KUTAI TIMUR – Komitmen Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) dalam memperluas akses pendidikan kembali ditegaskan melalui peluncuran Rencana Aksi Daerah (RAD) Strategi Anti Anak Tidak Sekolah (SITISEK) Tahun 2025. Kegiatan yang berlangsung di Hotel Royal Victoria pada Jumat 21 November 2025.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutim, Mulyono, menegaskan bahwa pendidikan merupakan hak konstitusional yang tidak dapat ditawar dan merupakan amanat Undang-Undang Dasar 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menempatkan negara pada posisi wajib untuk memastikan seluruh anak mendapatkan akses pendidikan tanpa diskriminasi.

“Tidak boleh ada satu pun anak di Kutim yang kehilangan hak untuk bersekolah, ini adalah tanggung jawab moral sekaligus tanggung jawab negara,” tegasnya.

Data Pusdatin Kemendikbudristek per Maret 2025 menunjukkan bahwa terdapat 13.411 anak di Kutim yang masuk kategori ATS. Dari jumlah itu, 9.940 anak belum pernah bersekolah, 1.996 anak putus sekolah di tengah jalan, dan 1.470 anak tidak melanjutkan pendidikan.

Kutim bahkan tercatat sebagai daerah dengan angka ATS tertinggi di Provinsi Kalimantan Timur.

Melalui proyek perubahan SITISEK, Disdikbud Kutim mengadopsi pendekatan multidimensi untuk mempercepat penurunan jumlah ATS.

Langkah strategis tersebut mencakup verifikasi dan validasi data berbasis Nomor Induk Kependudukan (NIK), pembentukan tim penanganan ATS lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD), penyaluran berbagai bantuan pendidikan, serta penyediaan kelas jauh bagi wilayah dengan akses terbatas.

Pelibatan PKK, RT, perangkat desa, hingga sektor swasta melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) turut menjadi bagian penting dalam upaya ini.

Mulyono juga menjelaskan bahwa faktor kemiskinan, kondisi geografis, dan budaya masih menjadi penyebab dominan yang menghambat anak-anak untuk bersekolah.

SITISEK tidak hanya menyentuh aspek pendidikan formal, tetapi juga akar persoalan sosial dan ekonomi masyarakat.

Disdikbud Kutim turut menggandeng Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dalam penyusunan masterplan dan rencana aksi berbasis akademik untuk memastikan intervensi yang lebih tepat sasaran.

Sejauh ini, gerakan SITISEK menunjukkan hasil awal yang menggembirakan. Dari total 13.411 data ATS, sebanyak 2.872 anak telah berhasil ditangani, sehingga angka ATS Kutim menurun menjadi 10.539 anak.

Selain itu, terdapat 4.982 data yang tidak ditemukan saat verifikasi lapangan, namun masih menunggu proses pemadanan sebelum dihapus resmi oleh pemerintah pusat.

“Ketika data diperbaiki, kebijakan menjadi lebih presisi. Ini bukti nyata bahwa strategi kita berada di jalur yang benar,” ungkap Mulyono.

RAD SITISEK 2025 disusun dengan skema bertahap mulai dari jangka pendek, menengah, hingga jangka panjang.

Pada tahap awal, pemerintah fokus pada penyempurnaan data dan percepatan distribusi bantuan pendidikan.

Tahap menengah diarahkan pada perluasan kerja sama CSR, optimalisasi pembelajaran digital di wilayah terpencil, serta peningkatan jumlah kelas filial.

Sementara pada jangka panjang, SITISEK akan direplikasi di seluruh kecamatan dan diusulkan menjadi program nasional agar keberlanjutan pendanaan dan kebijakan semakin kuat.

Mulyono menekankan bahwa keberhasilan program ini memerlukan komitmen seluruh pemangku kepentingan, mulai dari OPD terkait, pemerintah kecamatan dan desa, dunia usaha, hingga masyarakat.

Gerakan bersama tersebut diharapkan mampu mempercepat terwujudnya Kutim Hebat 2045.

Dengan diluncurkannya RAD SITISEK 2025, Pemerintah Kabupaten Kutim berharap tidak ada lagi anak yang tertinggal dari layanan pendidikan.(ADV)

Bagikan Sekarang

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *