Disdamkarmatan Dorong Area Pemukiman Harus Miliki Hidran

Kondisi area kebakaran di Jalan AM Alimuddin RT. 33 Kelurahan Melayu. (Kata Nusantara)
KATANUSANTARA.COM – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong agar kawasan pemukiman memiliki sistem hidran sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kebakaran.
Kepala Disdamkarmatan Kukar Fida Hurasani mengatakan, keberadaan hidran dibutuhkan untuk mempercepat proses penanganan kebakaran, khususnya dalam memastikan ketersediaan sumber air di sekitar lokasi kejadian.
“Ya, harus. Kalau saya bilang, hidran itu harus,” kata Fida,
Namun menurutnya, pembangunan sistem hidranisasi di kawasan pemukiman tidak dapat dilakukan oleh Disdamkarmatan seorang diri.
Perencanaan memang dapat disusun oleh pihaknya, tetapi pelaksanaannya membutuhkan keterlibatan sejumlah perangkat daerah dan instansi terkait.
“Damkar, dalam hal ini Dinas Damkar, kan tidak bisa bergerak sendiri,” ujarnya.
Fida menyebut beberapa instansi yang dapat terlibat dalam pembangunan sistem tersebut, di antaranya Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), Dinas Pekerjaan Umum (PU), hingga perusahaan air minum apabila diperlukan koneksi dengan jaringan air.
Sementara itu, Disdamkarmatan telah mengambil langkah yang dapat dilakukan secara mandiri dengan membangun hidran kering.
Sistem tersebut merupakan inisiatif Damkar untuk membantu mempercepat pengisian ulang air ketika terjadi kebakaran.
Fida menjelaskan, hidran kering tersebut memang memiliki keterbatasan karena belum menjadi sistem hidranisasi kawasan secara menyeluruh.
Namun, keberadaannya dapat memangkas jarak petugas untuk memperoleh sumber pengisian air.
“Kondisinya terbatas, bagaimana memudahkan saya dalam rangka pengisian ulang apabila terjadi suatu kejadian di dalam wilayah tersebut,” katanya.
Ia mencontohkan hidran kering yang telah dibangun hingga kawasan Simpang Tiga Jalan Maduningrat-Kartini.
Dengan fasilitas tersebut, jarak yang harus ditempuh armada untuk mengisi ulang air dapat dipangkas sekitar satu kilometer.
“Artinya, saya kan nggak usah jauh-jauh. Kan lumayan, saya mengurangi jarak satu kilo,” ujarnya.
Menurut Fida, hasil evaluasi menunjukkan hidran kering yang dibangun tersebut dapat berfungsi sesuai dengan perencanaan.
Namun, sistem itu baru membantu pada titik tertentu dan belum mampu menjawab kebutuhan sumber air di seluruh kawasan.
“Nah, itu kemarin kalau kita evaluasi, alhamdulillah bisa dikatakan 100 persen itu berfungsi dengan baik sesuai dengan perencanaan kita. Tapi itu mengarah kepada satu titik,” ungkapnya.
Keterbatasan sumber air kembali terlihat dalam penanganan kebakaran di kawasan pemukiman.
Fida mengatakan, petugas yang berada di wilayah tertentu bisa lebih mudah memperoleh sumber air, sementara armada dari wilayah lain harus menunggu giliran untuk melakukan pengisian ulang.
Ia mencontohkan kondisi armada yang berada di wilayah Kelambu Kuning. Untuk melakukan pengisian air, petugas harus mengantre sehingga membutuhkan waktu sekitar 10 hingga 20 menit.
“Wilayah saya di Kelambu Kuning, saya harus mengantri untuk mengisi. Artinya, butuh waktu 10, 15, sampai 20 menit,” katanya.
Kondisi tersebut, menurut Fida, menjadi salah satu catatan penting dari evaluasi penanganan kebakaran.
Sebab, dalam situasi kebakaran, waktu sangat menentukan kemampuan petugas dalam menekan penyebaran api.
Ia mengungkapkan dalam penanganan kejadian terakhir, pihaknya harus menghabiskan beberapa tangki air dalam waktu relatif singkat. Dalam kurang lebih 30 menit, tiga tangki dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter, 14.000 liter, dan 10.000 liter telah digunakan.
“Dalam kurang lebih 30 menit, saya memuntahkan tiga tangki dengan kapasitas 6.000, 14.000, 10.000,” jelas Fida.
Menurutnya, pada tahap awal, api yang mengenai dua bangunan inti sebenarnya sudah dapat ditekan.
Namun, ketika armada harus melakukan pengisian ulang air, kondisi di lapangan berubah.
Saat proses pengisian ulang berlangsung, arah angin berubah dan membuat api kembali membesar.
Situasi tersebut menjadi salah satu bahan evaluasi bagi Disdamkarmatan untuk melihat titik kelemahan dalam penanganan kebakaran.
“Pada saat kita mengisi ulang, mengisi tangki kita, di situ angin berubah dan di situ api membesar lagi,” tuturnya.
Dari pengalaman tersebut, Fida menilai persoalan utama yang perlu kembali dibahas adalah ketersediaan sumber air yang dekat dengan kawasan rawan kebakaran.
Menurutnya, pembangunan hidran di kawasan pemukiman perlu menjadi pembahasan bersama lintas instansi agar sistem penanganan kebakaran tidak hanya bergantung pada mobilisasi armada dan pengisian air dari lokasi yang cukup jauh.
“Di situ penilaian secara pekerjaan tugas, berarti kita ada titik lemahnya di mana. Artinya, kembali kepada sumber air,” tegasnya.
Ia menegaskan, persoalan sumber air sebenarnya bukan hal baru dan telah beberapa kali dibicarakan dalam pembahasan mengenai kesiapsiagaan kebakaran.
“Apa yang sudah beberapa tahun yang lalu kita diskusikan, apa kendala kita di sini. Kembali kepada sumber air. Itu aja,” pungkas Fida.






